Kamis, 29 April 2010

Fren Alami Kerugian Rp 200 miliar

Jakarta - PT Mobile-8 Telecom Tbk (FREN) masih mencatat rugi bersih sebesar Rp 200 miliar pada triwulan I-2010. Demi mencegah penambahan beban, perseroan berharap seluruh utang mereka yang masih tercatat sebesar Rp 531,153 miliar dikonversikan menjadi saham.

Menurut CEO PT Mobile-8 Tbk, Merza Fachys, perseroan mengharapkan seluruh utang usaha mereka yang saat ini berjumlah Rp 531,153 miliar dapat dikonversi menjadi saham, sehingga dapat mengurangi beban perseroan dalam neraca keuangannya.

"Langkah yang paling baik menurut kami adalah seluruh utang yang ada bisa dikonversi menjadi saham 100%," ungkapnya seusai RUPS FREN di MNC Tower, Kebun Sirih, Jakarta, Kamis (29/4/2010).

Hari ini perseroan telah mendapat persetujuan dari pemegang saham untuk melakukan rightz issue sebanyak 4.147.836.803 lembar saham, untuk melunasi utang kepada sembilan kreditur FREN dengan nilai Rp 209.060.974.564. Harganya masih sama Rp 50,40 per lembar saham.

Dari 9 kreditur ini, perseroan masih memiliki utang senilai Rp 58,71 miliar. Di luar itu, manajemen FREN terus melakukan komunikasi dengan 4 kreditur lain untuk mengkonversikan utang ke saham. Total utang dari keempat kreditur tersebut sebesar Rp 472,443 miliar. Hingga secara keseluruhan perseroan masih memiliki beban sebesar Rp 531,153 miliar.

"Kalau sisa dari sembilan itu, tidak mungkin dibayar tunai. Kita tidak punya dana yang cukup. Makanya kita tawarkan terus ke mereka. Termasuk kreditur yang lain. Mereka ini partner kita kok, vendor, tower provider," jelasnya.

Empat kreditur yang sedang dijajaki perseroan di antaranya adalah PT Huawei Tech Invesment dengan nilai Rp 114,507 miliar, PT NEC Indonesia senilai Rp 6,703 miliar, bunga Guaranted Senior Notes Rp 162,360 miliar, dan terakhir adalah bunga hak penggunaan konversi jasa telekomunikasi dan USO sebesar Rp 188,873 miliar.

Pelaksanaan rights issue ditargetkan tuntas pada Juni 2010. "Kalau mulai diurus Senin depan, berarti awal Juni bisa terbit," paparnya.

FREN juga telah menyiapkan dana sekitar US$ 11 juta untuk belanja modal (capex) mereka di tahun 2010. Karena laba bersih yang tercatat masih defisit, menyebabkan perseroan tidak mengambil capex dari kas internal. Perseroan akan mencari pendanaan lain dalam bentuk surat utang komersial (rising fund).

"Sumber capex bisa dari raihan revenue kita, juga penerbitan surat utang komersial lagi. Hingga kini perseroan telah menerbitkan sebanyak Rp 200 miliar. Nanti akan diterbitkan sesuai kebutuhan saja, dengan dibantu oleh Sinar Mas Sekuritas sebagai arrenger," jelas Direktur FREN Anthony C. Kartawiria.

sumber: detik.com

Ulasan : Dalam suatu bisnis pasti akan mengalami keuntungan dan mengalami kerugian terrgantung dari pihak manajemen perusahaan masing-masing.. mungkin manajemen pada saat itu kurang melakukan strategik yang baik untuk usahanya,,,sehingga mengalami kerugian yang sangat besar,,untuk menghadapi itu manajemen yang baik harus bertindak dengan cepat menangani maslah tersbut,, strategi-strategi apa yang baik untuk mengatasi masalah itu,,jangan sampai kerugian semakin besar,, dan jangan sampai usahanya gulung tikar....

Jumat, 16 April 2010

Laporan Segmen

>> FASB (Financial Accounting Standards Board) atau dikenal dengan Dewan Standar Akuntansi Keuangan. FASB 131 adalah standar yang terfokus pada informasi keuangan yang di gunakan oleh pengambil keputusan keuangan untuk megevaluasi segmen operasi suatu entitas. FASB 131 pengganti FASB 14, karena FASB 14 belum memadai. Walaupun beberapa apek dari kriteria pengungkapan dari FASB 14 tetap ada, FASB 131 menggunakan pendekatan manajemen untuk definisi segmen.

Oleh karena itu, FASB 131 mengharuskan bahwa informasi keuangan mengenai segmen harus disajikan sesuai dengan struktur organisasi internal dari entitas sebagaimana digunakan oleh direktur keuangan perusahaan untk mengambil keputusan operasi dan menilai kinerja perusahaan.


>> FASB 131 mendefinisikan segmen operasi sebagai komponen perusahaan :
1. Yang melakukan aktivitas usaha dari mana ia memperoleh pendapatan dan mengeluarkan beban (termasuk pendapatan dan beban yang terkait ke transaksi komponen lain dari perusahaan yang sama).
2. Yang hasil operasinya ditelaah secara berkala oleh pengambil keputusan keuangan utama perusahaan untuk membuat keputusan mengenai alokasi sumber daya yang akan dialokasikan ke segmen dan menilai kinerjanya.
3. Yang laporan keuangan terpisahnya tersedia.


>> Dalam FASB 131, FASB menyatakan bahwa alokasi dari pendapatan dan beban akan dimasukkan untuk segmen yang dilaporkan hanya jika pendapatan dan beban tersebut dimasukkan ke dalam laba atau rugi segmen yang di gunakan oleh pengambilan keputusan keuangan utama perusahaan.


DEFINISI SEGMEN DILAPORAKAN:
Proses penentuan segmen operasi dilaporkan secara terpisah yaitu, segmen di mana pengungkapan tambahan yang terpisah harus dibuat, adalah berdasarkan spesifikasi manajemen atas segmen operasi yang digunakan secara internal untuk mengevaluasi posisi keuangan dan kinerja operasi perusahaan.

Walaupun perusahaan diharuskan untuk melaporkan aktiva dari segmen yang dilaporkan terpisah, FASB 131 juga memperbolehkan perusahaan untuk melaporkan kewajiban segmen jika perusahaan meyakini bahwa pengungkapan yang lebih penuh akan lebih bermakana. Aktiva yang dilaporkan adalah aktiva yang digunakan oleh pengambilan keputusan aktiva tak berwujud lainnya.


>> FASB 131 menyatakan bahwa pengungkapan segmen juga harus dibuat dalam laporan keuangan interim seperti laporan keuangan kuartalan. Laporan keuangan interim harus mengungkapkan hal-hal berikut tentang tiap segmen yang dilaporkan:
1. Pendapatan dari pelanggan eksternal
2. Pendapatan antar segmen
3. Pengukuran laba atau rugi segmen
4. Total aktiva untuk mana terdapat perubahan material dari laporan tahunan
terakhir.
5. Setiap perbedaan dari laporan tahunan terakhir dalam definisi segmen operasi.
6. Rekonsiliasi total laba atau rugi segmen dengan total konsolidasi entitas.